Selasa, 02 Desember 2014

Shanjunisme Writing Project "EUPHORIA"


Apa yang kami ingat dari serpihan kenangan setelah lebih dari dua tahun menemani Shania Junianatha Apakah kami merekam setiap kata-kata? Setiap perkembangan Shania dari hari ke hari? Mungkin tidak semua detail yang kami ingat, namun satu yang pasti, semuanya terwakili lewat rasa. Rasa kagum, persahabatan dan cinta. Untuk menggenggam rasa itu agar tetap di tempatnya, tidak terlepas dan hilang begitu saja, maka tercetuslah ide untuk mengawali “Shanjunisme Writing Project, EUPHORIA”

Adalah 2 sahabat saya @dittamelia dan @dindaayu1995 yang memiliki hobi menulis. Sudah lama kami menyimpan niat untuk membuat karya bersama. Baru di akhir oktober, ide untuk mebuat buku kolaborasi tercetus. Selama 1 bulan kami pun bekerja mewujudkan ide ini agar tidak berhenti hanya sebatas ide. Entah apa yang malam itu menggerakan jempol saya untuk LINE Ditta. Ditta adalah partner sparring jempol saya yang sepadan. Kecepatan jempolnya seringkali mendahului kecepatannya berpikir. Kurang lebih seperti ini :

Saya : “Eh project lagi yuk?”

Ditta : “Yuk project apa?”
Saya : “Dari pada ngurusin berita bias fandom
ini di twitter, mending kita bikin anak orang seneng. How?”

Ditta : “Tapi project apa?”
Saya : “Bikin film pendek gimana?”
Ditta : “Jangan deh sulit, inget kita beda kota
ga bisa ketemu setiap hari”

Saya : “Bener juga, kalo buku gimana? Ajakin
Dinda”

Ditta : “Yuk buku boleh!”

Dinda yang biasanya tidak pernah tidur larut malam, tumben malam itu masih bisa membalas bbm saya.

Saya : “Din, project lagi yuk. Project buku

sama Ditta”

Dinda : “Hayuk! Take me, kapan?”
Saya : “Secepatnya!”
Kemudian saya pun buru buru line Ditta. Dan
akhirnya….

Ditta : “Hah? ini serius?”
Gue : “Yes! I’m ready”
Ditta : “KALIAN GILAK!”
Hahahahaha….

Dear Shania, coba saya tanya sekarang? Siapa yang paling impulsive di antara kami? Oke. Iya. Iya sama aja semuanya. :’) Kemudian kami pun tertawa bareng bareng. Tak percaya pada apa yang baru saja kami lakukan.

Life is full surprise, termasuk malam itu ketika chat iseng (sumpah iseng). Berada di sekeliling teman-teman yang semangat produktif berkarya itu menyenangkan. Memang sedikit mendintimidasi. Hihi. Tapi itu baik. Seperti apa buku yang akan kami kerjakan ini ya.

Sebagai cikal-bakal lahirnya buku ini. Kami mulai membahas bagaimana mewujudkan niatan untuk mempersembahkan sebuah karya yang indah. Tidak hanya kami, tapi juga ingin semua Shanjunisme tetap ada dan memberikan atensi penuh untuk project ini. Dan dimulailah project tersebut, dimana Shanjunisme dipersilahkan untuk bercerita melalui cerpen ataupun narasi serta puisi dengan tema “Cinta”. Kenapa harus Cinta? Karena semua perjalanan ini berawal dari rasa cinta dan kekaguman yang besar pada sosok Shania.

Intinya, Shanjunisme ada karena cinta. Seiring berjalanannya proses mempublikasikan project ini,  tanpa kami perkirakan sebelumnya, antusias Shanjunisme ternyata luar biasa. Berbagai pertanyaan dilontarkan seputar project, banyak Shanjunisme yang membantu me-retweet dan mempublikasikan project, hingga pada akhirnya project ini ditutup, kami menerima puluhan cerpen, puisi dan cerita tentang cinta ala Shanjunisme. Kami sangat bangga, perjuangan kami tidak sia-sia. Kami merasa sangat tersanjung ingin mengumpulkan karya Shanjunisme dalam satu buku untuk dapat di nikmati, mempercayakan hasil karyanya untuk di muat dalam buku ini. Kami hanya sebatas bersama.


Itu sedikit perjalanan dan perjuangan kami dalam menyusun buku ini. Buku ini, kami harapkan bisa menjadi media untuk yg ingin mengenal lebih dekat seorang Shania Junianatha. Sekaligus membuktikan Shanjunisme adalah suatu komunitas yang kreatif serta berimajinasi tinggi serta memiliki kemampuan dalam berkarya.


Akhirnya, kami berharap buku ini dengan segala kekurangan dan kelebihannya, dapat menginspirasi setiap pembacanya untuk menebar cinta, bersemangat dan terus berkarya. Selamat membaca, mengenal Shania lebih jauh dan menikmati setiap cerita di dalamnya….






Thanks for all regards from me! :)


Btw Nju lucu ya >.< *ignore*


Senin, 01 Desember 2014

Sukses UAS-nya, Nju!

Mencoba meraih mimpi di status mereka sebagai seorang pelajar. 

Sulit? Pasti!

Permalink gambar yang terpasangNju udah terjun ke dunia entertainment dari kecil. Dan nampaknya dia sangat menikmati semuanya di jeketi skrng.  

Satu tahun setelah masuk JKT48 dia ketemu  UN, ntah kenapa gue seneng banget liat tweet tweet dia saat itu yang setiap harinya bahas tentang sekolah dan pelajaran. Sampe beberapa minggu vakum dari semua aktifitas theater supaya fokus sama UNnya. Berarti dia bisa nempatin posisi dia dimana jadi public figur dan seorang pelajar.

Usaha keras itu memang ga berkhianat ya, dia dapet nilai UN Bahasa Indonesia 90 dong yg notabennya terbaik di kelas (katanya) disini gue makin bangga banget sama anak satu ini.

Tapi.

Gue kangen.

Serius kangen.

Iya kangen.

Kangen liat Nju pake baju seragam sekarang hahaha ._.

Udh lama ya ga liat.

Iya.

Lama banget……

Huft.

Hmm terakhir waktu SMP.

Inget banget dulu dia sering malah hampir tiap hari selfie muka kucel abis sekolah. Cerita tentang kegiatan dia di sekolah, kebingungan dia disaat banyak tugas dan jadwal jeketi yang padat. Tapi di situ yg bikin bangganya.

Iya bangga banget.

Bangga sama anak 14 tahun yang mencoba raih mimpinya di tengah kesibukannya sekolah :)

Dan skrng dia home schooling, ga masalah sih home schooling atau sekolah regular biasa, menurut gue sama aja ah.

Cuma itu artinya dia udh ada di titik dimana dia nyerah bagi waktu buat sekolah sama kegiatan jeketi. Gue paham dan mencoba paham kalo negajalanin aktivitas jkt sama sekolah itu emang ga mudah. Theater, perform on-off air, syuting, event dll ga akan bisa di lakuin bersamaan.

420x420
“Beberapa hari aku sibuk sama urusan sekolah. Waktu ujian semakin dekat~ Tandanya, belajarnya harus lebih rajin.  Hmm td udah tidur 2 jam di sekolah ._. Tapi kayanya aku ngantuk lagi XD males ganti baju juga hahahaha.. Sambil nunggu waktu latihan tidur dulu ah. Aku kangen theater nih, udh lama ga theater! Sampai bertemu Jumat (^^)”


Semoga skrng makin lebih mudah ngatur belajar sama kegiatan jeketinya ya Nju. Ga kaya dulu setiap mau sekolah ngeluh ngantuk mulu, malah sering bobo di kelas karna kadang kegiatan jeketi baru selesai malem dan besok paginya harus sekolah.

Skrng lagi UAS ya kan?

Besok mata kuliah apa?

Berapa SKS?

Semoga dapet dosen pengawas yang baik ya biar IPnya tinggi.

Hmmmm… kaya ada yg salah ._.

Duh, maap maap.

Belajar yang rajin ya adeknya akuh, supaya hasilnya memuaskan. Makin banyak kegiatan semoga makin pinter bagi waktu belajar nya, kalo ada waktu luang sempetin baca baca buku. Kejar materi yang ketinggalan, selesaiin tugas tugas yang belum di kerjain. ^^


Good luck buat UASnya besok anak IPS! Ganbare! :)

Rabu, 29 Oktober 2014

Beby sosok sahabat yang menyenangkan ^^

Beb, temenan yuk?

Teman?

Teman, huh?

Teman, kah?

Teman, ya?

Ha?

Teman?!

TEMAAAAN???!!!

Loh kok gue nulis tentang Beby? Blog gue di bajak ya? Blog gue di ambil alih siapa ini?

Canda deng, blog gue ga di ambil alih kok. Apalagi di bajak ._.

Tulisan di penghujung bulan manis ini (ga manis manis amat sih, manisan Nju) tentang seorang sahabat baik bocah tembem, ya dia Beby Chaesara Anadila. Mungkin kalian yg baca bertanya tanya, "Kok tumben bahas selain shania" mari kita clear kan bersamasama ^^

"Beby itu sahabatnya oshi gue dan oshi sahabat sahabat gue"

Jadi gue sama Beby saling berkaitan (?) *sound wrong* ga gitu.

Maksudnya ga jarang gue sama Beby jadi sering banget interaksi. Gue ngerasa kalo deket sama beby, ngobrol sama beby nemuin rasa nyaman disana. Kaya ngobrol atau ketemu temen sendiri. Beda kalo ketemu Shania, gue akan memutar balik arah 360 derajat. Gatau emang libra kalo ketemu oshi gitu ya? ada lagi? apa cuma gue doang?

Kayaknya emang cuma gue doang. Huftnju ._.

Persahabatan itu ibarat sekotak crayon. Masing-masing punya warna yang berbeda.. Tapi coba padukan, mereka akan membuat sebuah pelangi yang indah. Shania paling dekat dengan beby.

Kadang sempet mikir ga sih kalau ketemu sama orang baru, apa kita punya sistem pendeteksi yang akan segera membuat list-list screening seperti mesin otomatis?

Blip Blip.. 

Oh dia kalem, rumahan, atau ini anak rame, lucu, asik diajakin jalan-jalan, atau ih ini anak kayaknya rese, cerewet bla..bla.. 

Begitu biasanya sistem pendeteksi otomatis memberikan laporan sementara. Banyak orang bilang “Don’t judge the book from it’s cover” haduuh kalo udah otomatis gimana dong ya? Mungkin ganti, “Don’t judge the book only from it’s cover”

Pernah ga sih ketemu sama orang baru yang dengan gampangnya ngobrol, tertawa-tawa, komunikasi rasanya nyambung. Rasanya sefrekuensi?

Tapi ada pula kalanya saat bertemu dengan orang baru yang biasa saja, standard. Atau kadang ketemu orang yang dengannya kita cenderung untuk membuat benteng-benteng, tertutup, hanya berdiri di permukaan. Pernah ga mengalami hal ini?

Tapi orang orang yang kita bersikap biasa, sulit untuk bisa cair, bukan berarti orang tersebut tidak baik, atau enggak pas atau apalah namanya. Menurut gue sih, hanya enggak “klik” aja.

Rasa klik itu bukan berarti “sama”. 

Sama dalam artian karakter, kebiasaan, hobi dll bukan, masing-masing punya karakter yang berbeda, tapi tetap klik rasanya. Kebersamaan dengan mereka selalu menyenangkan, dan selalu menantikan untuk bersama lagi.
Itulah mengapa dalam hidup, bertemu berkenalan dan berkomunikasi dengan begitu banyak orang.

 Tapi perhatiin deh berapa banyak dan siapa yang akhirnya menjadi sahabat kamu Shan?
Yang kamu bisa lari padanya dengan segala macam cerita. Yang kamu ga perlu jadi orang lain untuk berbagi apa aja. Beby bisa menyebalkan, bisa menyenangkan, bisa menjadi apa aja. Beby bisa ga sepaham sama kamu, dia juga bisa beradu argumentasi, kalian bisa saling sebel, tapi kalian bisa juga saling berbagi, jalan-jalan bareng, ketawa bareng, nangis bareng, saling memberi semangat, terus dan terus.

Menjadi manusia tanpa topeng-topeng, tanpa banyak label-label. Mereka yg seperti Beby ga banyak kan? Kira-kira kenapa dia ada terus dalam hidup kamu shan? Entah kemanapun, dengan siapa nantinya kamu berpacaran atau menikah, dia tetap ada. Persahabatan memang ajaib  ya. ^^

Beby itu idol yang smart, idol yang kuat, idol yang tangguh, idol yang hebat!

Entah kenapa gue bisa berspekulasi demikian. Itu menurut pandangan gue aja sih. Kadang juga suka salut sama Beby di beberapa point. Umur dia sama Shania juga ga terpaut jauh, tapi cara dia berfikir bikin gue malu sendiri. Anak umur segini kok kadang bisa berfikir sejauh itu ya.

Gue kalah >,<

Rasa nyaman sebagai Teman yg gue temuin di sosok Beby itu jadi kesenangan tersendiri buat gue. Kalo di tanya siapa member yg wajib gue beli HSnya pasti gue akan jawab “Shania dan Beby” Shania sebagai oshi, dan beby sebagai Sahabat oshi yg bisa di ajak sharing atau sekedar cuma cerita ini itu tentang Shania yg biasanya sama anaknya sendiri aja ga pernah sama sekali di ceritain, nitip Shania, bahkan gossip ga jelas tentang Shania. Uhm map ya shan >.<

Mau cerita sedikit ya, waktu itu waktu HS Managu. Ceritanya gini…

*masuk bilik*

Gue : “Halo beb, aku Shania oshi”
Beby: “Udah tau kok, kakak JOT kan?”
Gue : “Hah?! JOT?”
Beby : “Iya Junianatha Operation Team”
DENG!! “………………..” *hening sampe lebaran*

Jadi beberapa hari sebelum HS gue emang sempet ngasih fanlet ke Shania, cerita panjang lebar tentang JOT dan itu ceritanya cuma ke Shania aja, ga cerita ke yang lain.

Gue : “Eh kok tau sih?”
Beby : “Tau dong, aku kan tau segalanya”
Gue : “Serem yaa ._.”

Hmmm entah gimana ceritanya di balik layar, biarkan jadi misteri. Kalo penasaran bisa di tanyakan sama orang yg bersangkutan ehehehehehuft~ K

Itu satu point yang gue salut dari beby, dia idol yg gercep alias gerak cepat. Ga jarang dia selalu tau obrolan atau sesuatu apa yang lagi ngetrend di kalangan fans. Hebat ya! Ntap emang sahabat oshi aing.

Beby juga anaknya super jail, jailnya tingkat dewa. Dia sering ganggu gue kalo lagi hitouch sama Shania, posisi dia emang selalu sebelahan sama Shania sih. Mereka udah kaya perangko, nempel mulu.

Beberapa hari yang lalu…

Gue : “Jangan nangis sih jelek tau”
Beby : “Ga usah nangis, dia emang udah jelek kak”
Shania : “…………” *hening*

Pengen jitak beby rasanya K

Di konser bandung kemarin…

“KASIAN DEH JAUH JAUH GA ADA NJU” *teriak dengan nada 5 oktaf*

Karna salah ambil jalur Hitouch, jadi gue hitouch di jalur yg ga ada bocah tembemnya. Awas ya beb, temu lagi wa jitak u_u

Sahabat itu memang layaknya dinding, kadang tempat disana kita bersandar. Sahabat akan selalu menghampiri ketika seluruh dunia menjauh, karna persahabatan itu ibarat tangan dengan mata. Disaat tangan terluka mata menangis, dan disaat mata menangis tangan sahabat yang akan menghapusnya.

Kamu itu sebenernya masih anak anak bgt loh. Dari cara berpikir, org nilai kamu dewasa. Ya dewasa buat berpikir untuk keadaan sekitar kamu. Tapi berpikir untuk diri sendiri, kamu masih anak anak sih kayanya :p dan kamu itu sebenernya manja cuma malu buat bener2 manja karena faktor badan ya 😁

Hmm...kita sering bgt punya pendapat yg sama. Tapi bedanya kita, kamu lebih bisa mengungkapkan apa yg kamu pikirin. Itu salah satu yg aku kagum dari kamuu :)) kalo diibaratin masak. Aku itu gasnya kamu itu kompornya :))

Kalian berdua itu ibarat punya lilin yg di pegang masing2.

Kalo kalian sama sama menyalakan lilinnya, kalian bisa saling menerangi. Dan hal tersimpel untuk menyalakan lilin itu adalah dengan berusaha dan berkarya. Berusaha lebih dan berkarya lebih. 

Anw titip dedek tembem ya beb :3


Selasa, 21 Oktober 2014

MEREKA

Saya punya janji dengan teman saya, Arin.

Kantor Arin dekat dengan cafe yang biasanya saya kunjungi di tempat saya dulu bekerja. Saya pikir, daripada menunggu Arin di loby kantornya, lebih asik kalau saya menunggu di cafe ini. Saya juga sedang ingin mengenang masa – masa dulu ketika saya sering berkunjung di cafe ini.

Lokasi cafe ini di sebuah jalan utama di Jakarta, nyaman dan banyak pilihan makanannya.

“Saya pesan es campur ya, Mbak. Meja saya di sana..” menunjuk ke sebuah meja di pojok cafe.

Saya menyapukan pandangan pada sekeliling cafe. Tak ada pegawai yang saya kenal. Akhirnya, es campur yang sudah saya pesan sejak tadi tiba di meja. Saya mencicipi satu sendok. Segar dan manis. Dan semua kenangan yang tersaji di hadapan saya pun menjadi manis. Saya tersenyum dalam hati mengingat semuanya. Kenangan – kenangan dulu ketika saya sering berkunjung ke cafe ini dengan teman teman satu kantor saya dulu, berputar di hadapan saya seperti film.

Cafe ini akrab sekali dengan saya. AC-nya yang super dingin. Suasananya yang seperti di tengah hutan. Musik klasik yang diputar masih itu – itu juga. Daftar menu yang ter-laminating rapi tertata di setiap meja. Orang – orang asik dengan obrolan bersama kelompoknya di mejanya masing – masing. Seseorang di meja ujung sana sibuk memelototi laptopnya dengan kening berkerut. Wajahnya kreatif. Seperti penuh dengan ide. Mungkin dia sedang menulis sebuah novel yang akan menjadi best seller suatu hari nanti. Saya terinspirasi olehnya.

Di meja lain, remaja – remaja berseragam putih abu menikmati minuman mereka sambil bergosip.

“Kira – kira parfum apa ya yang disukain gebetan gue?”
“Eh, lo liat gak tadi, merek sepatu yang dipake sama guru Matematika baru kita? Gilaa men! Mahal banget tau..”

Hmmm.. kalau yang ini kok saya kurang begitu suka ya. Tidak penting rasanya.. Ah, lagipula apa urusannya? Hihi..

Dengan cermat saya memperhatikan wajah – wajah setiap pengunjung cafe ini, Sekelompok anak muda lainnya memasuki cafe. Sepertinya mereka habis pulang kuliah. Tangan mereka masing – masing dipenuhi oleh buku – buku kuliah yang tebal. Cafe ini juga lokasinya dekat dengan kampus. Tak bosan – bosan anak – anak kuliah itu setiap hari mampir ke cafe ini, untuk makan siang atau sekedar duduk – duduk menikmati kopi.

Kemudian teman saya Arin datang.

“Hai, seru banget kayaknya kok ketawa sendiri. Awas dikira gila loh”

Memandang layar laptop yg memiliki ratusan following “Eh iya, ini lagi bales reply replyan mention dari temen”

“Oh, temen apa? Temen kerja? Temen kuliah?”

“Hmm bukan, temen kenal di Stasiun” sambil sedikit tertawa.

“Hah? Stasiun?” dengan wajah bingung penuh tanda tanya.

“Iya Stasiun, Stasiun itu bernama Shania”

“……..”

“Ah, saya hanya bercanda…..Yang namanya hubungan pertemanan didasarkan pada apa sih? Kesamaan kan. Seperti sama-sama tinggal di sebuah kompleks alias bertetangga, sama - sama menerima beasiswa, sama-sama berada di ruang kursus bahasa, sama-sama satu kelas di sekolah atau sama-sama sekolah ke luar negeri dan menuju negara yang sama. Tapi saya dan Mereka sama sekali tidak pernah bertemu di bangku sekolah atau pun kuliah. Kami juga tidak bertetangga”

“Lalu?”

“Melalu seorang Shania saya bisa mengenal Mereka semua”

“Lantas, Shania itu Siapa?”

 “Shania itu adik kecil kesayangan saya”

“Hmm… sungguh saya tidak mengerti, dia keluargamu? Saudara? Atau?”

“Bukan, dia orang lain. Bahkan kita awalnya tidak saling kenal”

“Lalu bagaimana kamu bisa sayang sekali sama dia hahaha………..aneh”

“Hmm memang aneh…. Entah, setiap saya melihat dia. Saya merasa menyerap berbagai macam energi, dia bagai sejuta semangat buat saya setiap harinya. Kamu tau? Saya menjalani kuliah sambil bekerja karna siapa?”

“……….hmmm karna siapa? Shania?”

“Hahaha benar! Saya merasa dia bisa menjalani hidupnya dengan berbagai macam kegiatan yg menyibukan. Sekolah, theater, latihan dan lain lain. Masa saya sendiri tidak bisa. Saya juga mau hebat seperti adik kesayangan saya itu”

“Wah, hebat! Sepertinya dia benar benar jadi motivasi kamu yes. Good girl!”

“Tentu…… Dulu saya memimpikan kuliah. Saya memimpikan saat – saat jalan bersama dengan teman – teman sepulang kuliah. Saya memimpikan saat – saat saya bekerja kelompok dengan teman – teman mendiskusikan tugas kuliah. Saya memimpikan berada di ruangan kelas yang ber-AC, sibuk mencatat kuliah dosen. Saya sangat memimpikan semua itu.

Tapi, saya sudah terlanjur bekerja di sebuah perusahaan teman papa saya. Papa saya selalu menyuruh saya keluar dari pekerjaan dan menyuruh saya untuk fokus kuliah, namun saya tidak enak dengan teman papa saya itu, tapi saya berjanji untuk melanjutkan kuliah setelah setahun bekerja. Di tambah dulu saya ikut kelas akselerasi jadi lulus lebih cepat dari teman teman seumuran saya.

Setelah setahun bekerja, akhirnya saya tak sabar lagi untuk menjalani mimpi saya itu. Saya mendaftarkan diri di kampus yang saya inginkan. Saya juga tidak mau meninggalkan pekerjaan saya. Saya bisa mengatur jadwal kok. Saya kuliah di malam hari dan kerja di pagi sampai sore hari. Capek tak lagi saya rasa ketika semalaman harus begadang mengerjakan tugas kuliah. Kantuk selalu menggoda setiap malam di kelas, dan sepanjang siang di tempat kerja. Saat itu tidur siang adalah barang mewah buat saya. Saya tak punya satupun free day.
Jatuh bangun saya menjalani kuliah sambil kerja tahun pertama saya. Tapi saya puas. Itu adalah keputusan saya. Dan saya bahagia menjalaninya. Dan seperti apa yang Shania jalani, sibuk tapi saya yakin dia bahagia kok. Karna JKT48 itu adalah passion dia. Disitu tempat dia belajar, tempat dia menggapai mimpinya”

..................Maaf saya jadi cerita panjang lebar, rin”
“Hahaha tak apa, btw teman teman yg kamu ceritakan tadi yes. Bagaimana kamu bisa mengenal dia? Coba ceritakan. Aku ingin jadi pendengar yang baik hari ini”

Kamu tahu apa definisi kata ‘ajaib’? ‘Aneh’, ‘langka’, atau ‘mukjizat’? Sepanjang apapun definisinya dan sebanyak apapun padanan katanya, menurut saya ‘ajaib’ itu cukup terangkum dalam satu kata. Hayo coba tebak apa?

*sodorin mic* kalau jawab “Shanjunisme” langsung saya kasih soto sekaligus penjualnya.

Kenapa bisa?

Baiklah.

Mari kita clear kan sekarang juga. Duduk manis, siapkan cemilan, saya naik ke mimbar *pret*

Ajaib dalam konteks per-Shanjunisme-an ini hampir sama artinya dengan kata ‘aneh’. Ya, Shanjunisme itu aneh. Berawal dari sebuah ‘klik’ yang saya lakukan pada tombol ‘Follow’ di akun Twitternya, beberapa saat kemudian keanehan-keanehan lainnya muncul berturut-turut.

Mendadak muncul ‘Shanjunisme’ di daftar LINE group ponsel saya yg sebelumnya benci dengan grup-grup-an di LINE. Selain karena bunyi notifications-nya yang mengganggu kedamaian hidup, terutama kalau mayoritas membernya adalah biang gosip, juga karena kondisi ponsel saya sendiri. Menekan ‘Accept’ untuk sebuah request grup LINE itu sama halnya dengan menambah ‘beban hidup’ bagi ponsel saya yang leletnya luar biasa.

Ajaib selanjutnya. Selain karena takdir Tuhan YME (tssaahh!), karena Shania lah saya bertemu orang-orang baru. Orang-orang baru yang tidak kalah ajaib. Ada yang berhidung lima, bertubuh empuk seperti gula-gula kapas, bergigi bak serigala, bersayap kelelawar, bermata satu.

Tenang, yang ini becanda kok.

Satu persatu Shanjunisme yang saya kenal yang sebelumnya hanya saya temui sebatas di dunia maya saja kini satu persatu kita bertemu di dunia nyata.

Temen temen terasik, termepet deadline, tersampah sticker, dan ter semuanya. Semoga kita masih bisa bikin sesuatu lagi ya buat Shania Junianatha. Godspeed for us!!

Bertemu teman-teman baru, melakukan hal-hal baru, dan segenap hal-hal unik, lucu dan haru lainnya. Sudah lebih dari cukup rasanya untuk menguatkan premis bahwa Shanjunisme itu ajaib. Ya, setidaknya bagi saya. Entahlah menurut kalian bagaimana.

Jalan hidup itu kadang ibarat rel kereta api. Kereta itu sendiri ibarat alat yang kita gunakan, yang akan membawa kita menuju kepada cita-cita, impian, dan tujuan kita masing-masing.

Ada kalanya kita harus berhenti di sebuah stasiun pemberhentian. Beberapa orang yang telah bersama kita dalam kereta, akan turun meninggalkan kita demi tujuannya sendiri. Dan beberapa orang baru akan naik, menggunakan kereta yang sama dengan kita, untuk mengejar tujuannya yang lain, yang kini sama dengan kita.
--
Seperti pertemuan atau perkenalan saya dengan Ditta, Dinda, Mitha, Kak Rina, Abi, Ilham, Dhean, Kelvin, Briliawan, Afry, Yohanes, Lintang, Dhias, Mahendra, Jonathan,  Laud, Indra dan teman-teman lain yang menggemaskan dalam komunitas Shanjunisme. Saya dan teman-teman Shanjunisme ini, mungkin awalnya berada dalam rel yang tak sama dengan tujuan berbeda pula. Namun ada satu titik di mana kita telah bertemu dan mengenal satu sama lain. Dan titik itu adalah sebuah stasiun yang saya sebut “Shania”.
--
Rasanya sudah cukup banyak yang saya alami bersama teman-teman dalam komunitas Shanjunisme ini. Banyak tawa, banyak canda. Banyak belajar juga. Terima kasih untuk waktu-waktu menyenangkan bersama kalian, dear Shanjunisme. Terima kasih sudah mau menyapa saat saya menaiki kereta dan kalian sudah lebih dulu berada di dalamnya. Saya cinta kalian.
--
Kereta api terus berjalan, dan kita terus mengejar apa yang kita mau. Mungkin saja nanti ada saatnya kita akan berpisah di sebuah persimpangan rel, atau di sebuah stasiun pemberhentian lain, kemudian bukan tidak mungkin kita kembali bertemu dan berjalan beriringan. Akan ada juga pertemuan-pertemuan baru dalam perjalanan nanti. Saat kita beriringan, berjalan dalam rel yang sejajar, bahkan berada dalam rel dan kereta yang sama, mari kita rayakan dengan membuka hati dan sapa.

Every person we meet has the potential to become very important in our lives. We just have to remain open to the possibilities and blessing each encounter migh bring.

Kita akan selalu ada dan bersaudara.
Cheers!
**
“Wah, saya hampir tertidur mendengar ceritamu itu yes. Sampai sekarang (dan mudah - mudahan sampai selamanya), semoga kamu masih bertukar kabar, bertukar pikiran dan pendapat tentang hal apapun dengan mereka ya. Saling menyemangati dan memotivasi untuk mimpi - mimpi yang ingin kalian capai”

“………Selamanya dan pasti!”

Obrolan saya dan Arin pun berhenti sampai disini. Pengunjung cafe semakin ramai. Saya melirik jam tangan saya. Ternyata sudah jam makan siang. Saya pun meninggalkkan cafe ini untuk berjalan kaki menuju rumah. Sepanjang perjalanan, Ipod saya memutar lagu Shonici milik JKT48 “Impian ada di tengah peluh bagai bunga yang mekar secara perlahan, usaha keras itu tak akan mengkhianati”


--


Kamis, 16 Oktober 2014

Shanjunisme Writing Project


Halo, Shanjunisme! Kali ini kita punya  project menulis :  “A Star of Love and Hope (Sebuah Cinta, Bintang dan Harapan)”. Apa yang membuat kita terinspirasi membuat project ini? Tentunya, karena kita hidup sehari-hari gak lepas dari cinta ya eym. Dan pasti semua orang memiliki sebuah impian dan tentunya sosok motivasi untuk mencapai harapan impian tersebut. Dan mengutarakan rasa sayang itu ga harus nunggu hari valentine kan? Ya salah satunya Cinta sama idola kita, Shania Junianatha. Banyak versi cinta yang bisa kalian bagi. Kita membuat project menulis ini dengan tujuan mengungkapkan rasa sayang Shanjunisme pada idola kalian.

Tulis dan ungkapkan ceritamu! Cerpen dan puisi dari Shanjunisme akan dibukukan dan pastinya akan diterbitkan melalui layanan self-publishing. HUWAWW KEREN banget kan?! Buku ini akan jadi semacam kado buat Shania yang udah jadi bagian inspirasi dari hidup kita ;)

Berikut adalah ketentuannya:
1) Cerita kamu boleh berupa cerpen atau puisi, cerita tentang bagaimana awal ngefans sama Shania, hal positif apa yg kalian dapet setelah kenal Shania dan Shania sebagai motivasi dalam hal apa. Dll.
2) Cerita di ambil dari kisah nyata, boleh juga fiktif.
3) Tidak mengandung PORNO dan SARA juga tidak ada unsur menjelek-jelekan orang lain.
4) Cara kirimnya melalui email kirim ke shanjunismeproject@gmail.com dengan subjek : “Judul tulisanmu” – Account Twitter (contoh: “In Shania Heart, There Is Shanjunisme” - @chickayesika)
5) Filenya dikirim dalam bentuk attachment ya, jangan ditulis di badan email. Pake software Microsoft Word. Font : Arial. Size: 12. Spasi : 1,5. Maksimal 4 lembar A4. Minimal 1 lembar A4.
6) Sertakan biodata kamu seperti nama lengkap, sekolah kuliah atau kerja dimana, hobby dan alasan kamu menjadi Shanjunisme.
7) Batas waktu mengumpulkan karya secepatnya.
8) Sertakan juga biografi singkat kamu dan kenapa kamu mengidolakan Shania.

Untuk yang ingin bertanya lebih lanjut silakan mention langsung ke @chickayesika @dittameliaa atau bisa ke @dindaayu1995.

Selamat menulis!